Petani Ubi Jalar Kerinci Terjepit Rendahnya Harga

Hot News | 28-Apr-04

Harga ubi jalar, yang banyak ditanam petani di daerah berhawa sejuk tersebut, hampir setahun ini tidak beranjak dari Rp 250 per kilogram.


KETIDAKADILAN terus dirasakan petani. Harga produk pertanian selalu saja jauh di bawah produk industri. Rentang harga malah kian lama semakin melebar. Sementara harga produk industri makin tinggi, harga produk pertanian sebaliknya, makin rendah. Kerja keras petani seolah tidak dihargai lagi.

RIBUAN petani di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, merasakan benar ketimpangan tersebut, khususnya mereka yang menanam kubis (kol) dan ubi jalar. Harga dua produk pertanian andalan Kerinci itu saat ini anjlok ke titik yang sangat merugikan petani.

Harga ubi jalar, yang banyak ditanam petani di daerah berhawa sejuk tersebut, hampir setahun ini tidak beranjak dari Rp 250 per kilogram. Itu sama saja artinya satu bungkus rokok dihargai sama dengan hampir 30 kilogram ubi jalar.

Padahal, petani selama delapan hingga sembilan bulan, sejak menanam bibit, menunggu panen ubi jalar hasil kerja keras mereka. Selama berbulan-bulan mereka membanting tulang memelihara tanaman.

Ketika masa panen tiba, yang seharusnya membahagiakan, kenyataan pahit harus dihadapi. Harga ubi jalar jatuh, dan petani seperti biasanya hanya bisa menerima nasib. "Saya cuma mendapat Rp 250.000 dari satu ton ubi yang baru saya panen ini," kata Jumanto, petani di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kerinci, Sabtu (24/4) pekan lalu.

Saat itu Jumanto tengah menjual ubi jalar miliknya kepada pedagang pengumpul di tepi Jalan Raya Kersik Tuo. Penghasilan tidak seberapa yang didapat Jumanto masih harus dibebani keluarnya tenaga ekstra karena harus mengangkut sendiri satu ton ubi jalar yang baru dipanen.

Dari ladang miliknya di kaki Gunung Kerinci, Jumanto mengangkut ubi jalar menggunakan gerobak yang ditarik sapi. Lokasi kebunnya sekitar empat kilometer dari tempat pedagang pengumpul.

Berbeda dengan Jumanto, Kusnarwan, petani di Desa Batangsangir, Kayu Aro, harus mengeluarkan uang tambahan untuk sewa gerobak. Biaya angkut satu gerobak ubi jalar dengan muatan sekitar 400 kilogram sebesar Rp 25.000.

"Sulit jadi petani sekarang karena harga rendah terus," kata Kusnarwan.

Sugiman, petani lain di Kersik Tuo, menyebutkan bahwa produksi ubi jalar di daerahnya sebenarnya bagus. Dari satu hektar lahan, rata-rata diperoleh hasil 19 ton. "Kami membutuhkan waktu delapan sampai sembilan bulan, mulai dari tanam hingga panen," ujarnya.

Dengan harga Rp 250 per kilogram, dari lahan satu hektar Sugiman mendapat uang Rp 4.750.000. Itu pun masih dikurangi ongkos buruh tanam dan pemeliharaan yang jumlahnya lebih dari Rp 500.000. Sembilan bulan Sugiman harus merawat tanaman.

Penghasilan akan mengecil jika petani tidak memiliki gerobak seperti dialami Kusnarwan. Mereka harus mengeluarkan uang tidak sedikit untuk mengangkut ubi jalar ke tempat pedagang pengumpul, yang rata-rata memilih tempat transaksi di tepi jalan raya yang menghubungkan Sungai Penuh, ibu kota Kerinci, dengan Muara Labuh, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

PEMILIK modal seperti pedagang akhirnya menjadi pihak yang mendapat keuntungan dari produk pertanian hasil jerih payah petani. Salah satunya pedagang pengumpul yang hanya ongkang-ongkang kaki di rumahnya tanpa harus keluar keringat untuk mencangkul tanah dan merawat tanaman.

Seorang pedagang pengumpul di Kersik Tuo, Evi, misalnya, menjadikan bisnis jual beli ubi jalar sebagai lahan yang bisa juga disebut kerja sambilan. Di rumahnya, Evi membuka warung kebutuhan sehari-hari. Halaman rumahnya dijadikan lokasi transaksi ubi jalar.

Keuntungannya, petani semacam Jumanto dan Sugiman datang ke lokasi transaksi itu. Petani yang hendak menjual pun menurunkan sendiri ubi jalar dari gerobak dan membantu mengangkat ketika hendak ditimbang. Pedagang, seperti Evi, tinggal mencatat timbangan.

Saat Jumanto dan Sugiman masih di tempat Evi dan pembayaran belum dilakukan karena masih harus mengangkut ubi jalar di kebun, Sabtu siang pekan lalu, datang tiga laki-laki menggunakan mobil pikap.

Salah seorang di antara mereka, Rasmin, menghampiri Evi. Rupanya Rasmin pedagang yang hendak membeli ubi jalar. Saat itu Rasmin menawar ubi jalar yang ditampung Evi kurang dari Rp 350 per kilogram. Akan tetapi, Evi kukuh pada harga Rp 350 per kilogram.

Rasmin akhirnya pergi karena harga itu dianggap terlalu mahal. "Saya masih harus membawanya ke Padang dengan ongkos angkut mobil Rp 300.000 untuk muatan empat ton," ujar Rasmin.

Kalau transaksi terjadi dan harga disepakati, hanya dalam hitungan menit pedagang seperti Evi mendapat untung tidak sedikit. Ketika Jumanto dan Sugiman masih berada di depan matanya, harga ubi jalar naik Rp 100 per kilogram. Melihat perbedaan harga jual di depan matanya, petani hanya bisa menyaksikan tanpa bisa menggugat.

Jalur pemasaran produk pertanian memang di luar jangkauan petani. Mata rantai pemasaran dikuasai jaringan pedagang yang memiliki modal.

Evi menyebutkan, pedagang dari luar daerahnya umumnya datang ke kawasan pertanian itu dan membeli dari pedagang pengumpul. "Saya tidak tahu harga jual di kota-kota tujuan. Setahu saya, ubi yang dibeli di sini biasanya dikirim ke Kuala Tungkal, Jambi, dan Palembang," katanya.

UBI jalar dan sayuran dari Kerinci, seperti cabai, kentang, kubis, dan tomat, menyebar ke mana-mana. Sentra sayuran Kerinci di Kecamatan Kau Aro, di kaki Gunung Kerinci.

Pemasaran sayuran asal Kerinci, khususnya ubi jalar, diakui Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kerinci Zubir Muchtar menyebar ke berbagai daerah. Zubir menyebutkan pihaknya akan membuka jalur pemasaran Kebasijo. "Kebasijo adalah jalur pemasaran dari Kerinci ke Muara Sabak (Provinsi Jambi), Batang, Singapura, dan Johor (Malaysia)," katanya.

Selain jalur pemasaran itu, distribusi ke daerah lain, seperti selama ini berlangsung, tetap berjalan seperti biasa.

Beberapa jenis sayuran asal Kerinci, seperti kentang, cabe, kubis, dan tomat, sejak awal April lalu mulai dikirim ke Batam. "Nantinya 30 persen kebutuhan sayuran Batam dipenuhi Kerinci. Dari Batam bisa pula sayuran Kerinci dipasarkan ke Singapura," ujar Zubir.

Ubi jalar asal Kerinci lebih dulu menembus pasar luar negeri, yakni ke Johor, Malaysia.


Sumber: KCM

Klik di sini untuk kembali.