| |
Lidah Buaya/Jadam
Aloe Vera (Ingg.), Aloe vera (Latin))
Famili: Liliaceae

Asal:
Deskripsi:
-
Tanaman sukulen tahunan.
Daun berdaging tebal dan banyak mengandung lendir atau gel.
Lidah buaya dapat digunakan sebagai tanaman hias, tanaman obat, maupun
minuman. Dari lebih 300 jenis Aloe, hanya tiga jenis yang diusahakan secara
komersial, yaitu Aloe vera (Aloe
barbadensis Miller), Aloe perryi
dan Aloe ferox. Di antara
ketiga jenis Aloe tersebut, hanya jenis Aloe
vera yang paling berpotensi untuk dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan
industri farmasi, pangan dan kosmetika.
Kandungan:
-
Cairan lidah buaya mengandung unsur utama, yaitu
aloin, emodin, gum dan unsur lain seperti minyak atsiri.
Senyawa-senyawa gula juga terdapat pada lidah buaya dalam bentuk mannosa,
glukosa, serta sejumlah kecil silosa, arabinosa, galaktosa, ramnosa
serta enzim-enzim oksidase
Manfaat:
-
Produk
yang dihasilkan dari lidah buaya dapat berupa shampo, pasta gigi, dan aneka
macam kosmetik lainnya malahan sekarang telah dijual dalam bentuk minuman
koktail. Kegunaannya bagi kesehatan
manusia antara lain untuk mengobati sakit kepala/pusing, sembelit, kejang pada
anak, kurang gizi, batuk rejan, muntah darah, kencin manis, wasir, peluruh haid
dan penyubur rambut. Selain itu
lidah buaya juga bermanfaat sebagai penyembuh luka dan luka bakar serta
mengurangi infeksi.
Budidaya:
- Pembiakan dapat dilakukan melalui anakan (umum dilakukan), benih, maupun setek
batang. Sekarang sudah
tersedia bibit hasil kultur jaringan
- Tanah berdrainase baik, subur dengan bahan organik tinggi
- Pengairan cukup
Pembibitan:
-
Anakan
yang telah cukup besar, berusia sekitar 1-2 bulan, dipisahkan dari tanaman induk
(ditangkarkan). Anakan akan muncul dari tanaman induk pada usia 5-6 bulan.
Penjarangan anakan ini sangat penting dilakukan agar tanaman lidah buaya
dapat tumbuh besar.
-
Pembibitan dari anakan dapat dilakukan di bedengan atau di polibag.
Pembibitan di bedengan dapat dilakukan dengan membuat bedengan berukuran
1-1.5 m x 10 m atau menurut kebutuhan dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm.
Bedengan harus benar-benar remah agar pertumbuhan akar bibit tidak
terganggu. Bibit yang terganggu
perkembangan akarnya akibat tanah yang keras tidak akan tumbuh berkembang.
Sebelum ditanami bibit, bedengan ditaburi pupuk kandang sebanyak 20 – 40 kg
(1-2 karung) per bedeng dan diaduk
secara merata. Penaburan kapur
pertanian dianjurkan untuk mengurangi serangan cendawan. Penambahan urea
sebanyak 7,5 kg per bedeng bisa dilakukan untuk merangsang pertumbuhan bibit.
-
Sedangkan pembibitan di polibag, bisa dilakukan dengan media tanah
dicampur pupuk kandang 1 : 1 atau 1 : 2 dan ditambahkan NPK 5 gram per polibag
tiap dua minggu. Setelah itu
polibag ditaruh di tempat yang cukup teduh namun masih terkena sinar matahari.
-
Saat awal pembibitan merupakan tahap dimana kebutuhan air harus
diperhatikan. Bibit mungkin akan
berwarna kemerah-merahan karena belum beradaptasi dengan lingkungan.
Dengan pengairan yang cukup, seminggu setelah pembibitan, bibit akan
menunjukkan pertumbuhan normal/pulih dari stres lingkungan akibat pemisahan dari
induk. Pengairan yang berlebihan
harus dicegah karena bibit mudah
busuk akibat serangan cendawan pada keadaan lembab.
Bibit yang terserang cendawan sebaiknya dibuang agar tidak menular dan
tanah disekelilingnya dibuang.
Penanaman
di Lahan:
-
Bibit sudah siap ditanaman di lapangan setelah berumur sekitar satu bulan
(satu bulan setelah bumbungan/penangkaran). Bibit ditanam pada lubang tanam yang
telah diberi pupuk kandang sekitar 1,5 kg per lubang tanam atau sekitar 20
sampai 30 ton per hektar. Jarak tanam yang dipakai 80 cm x 80 cm atau 80 cm x 70
cm secara zig-zag. Pupuk dasar yang digunakan adalah 10 g urea, 8 g SP-36 dan 9
g KCl per lubang tanaman. Pemberian
pupuk susulan dilakukan tiap 3 bulan sebanyak 10 g urea dan 9 g KCl.
Pemeliharaan:
-
Penyulaman di lahan dilakukan setelah tanaman berumur 1-2 MST (minggu
setelah tanam), yakni dengan cara mengganti tanaman yang mati atau kurang baik
pertumbuhannya dengan tanaman baru. Penyiangan (pembersihan gulma) dilakukan
sesuai kebutuhan, yaitu ketika pertumbuhan gulma mulai banyak dan mengganggu
tanaman. Penyiangan pada tanaman
lidah buaya sangat penting dilakukan karena peertumbuhan gulma yang cenderung
pesat dan menganggu tanaman.
-
Daun-daun bagian bawah yang telah berwarna kekuningan dan daun yang
terserang penyakit perlu dibuang. Daun
dijaga agar tidak sampai tertimbun tanah yang akan menyebabkan busuk akibat
serangan cendawan.
Pengairan perlu dilakukan ketika lahan terlihat kering (lama tidak turun
hujan). Pengairan yang telat akan
menyebabkan tanaman layu dan daun berubah warna kuning kemerahan yang memerlukan
waktu agar pulih kembali.
Hama
dan Penyakit:
-
Hama yang menyerang lidah buaya relatif sedikit.
Terkadang ulat atau belalang menyerang daun lidah buaya.
Pada keadaan lembab sering juga ditemui hama yang menyerang akar dan
batang lidah buaya, terutama saat pembibitan.
Sedangkan penyakit yang menyerang terutama busuk basah akibat
cendawan/bakteri pada daun. Penyemprotan
pestisida hanya dilakukan bila serangan hama dan penyakit cukup mengganggu.
Panen:
|
|